Klik Link di bawah ini dan diisi secara lengkap Terima Kasih
https://docs.google.com/forms/d/11cxN7LGEhiaY2qlNuARjj4zkGJg9LtRKqXMQ-YRGQEs/viewform?usp=send_form
Note: Apabila ada pertanyaan bisa menghubung WA/Line di 085 229 762676
Thursday, 29 October 2015
Thursday, 22 October 2015
Google Form Relawan Nyakar Universitas Siliwangi
Tinggal Klik dan Follow the Link, Isi selengkap-lengkapnya...Oxx.......kalo tidak jelas bisa menghubungi via sms ke 085229762676
Tuesday, 6 October 2015
Kemunculan Sosok Monster Di Gedung Mandala Universitas Siliwangi
Ada yang berbeda pada
kuliah dhuha pekan terakhir. Acara yang di gelar oleh UKM KISI UNSIL pada ahad
(04/10) ini mengundang berbagai komunitas kreatif yang ada di Tasikmalaya.
Tasik English forum (TEF), Kelas Inspirasi (KI) dan yang tak kalah heboh, yakni
Komunitas Rumah Sampah Berbasis Sekolah (RSBS). Merupakan tiga komunitas
kreatif Tasikmalaya yang kala itu datang menghadiri undangan panitia.
Tepat pukul 10.00 WIB, ketiga
komunitas ini melakukan demo dihadapan 3.000 mahasiswa baru yang hadir dalam
gedung Mandala. Satu per satu Komunitas
mempresentasikan seluk beluk komunitasnya masing-masing. Yang pertama
diberi kesempatan ialah Tasik English Forum (TEF), kedua, Kelas Inspirasi (KI),
dan yang mendapat kesempatan terakhir yakni Komunitas RSBS.
Mulanya, acara cukup
santai dan asyik. Namun, suasana berubah saat Kang Rido (Ketua RSBS) melakukan
presentasi. Ketegangan dipicu oleh hadirnya sosok Monster yang tiba-tiba muncul
di tengah-tengah peserta Kuliah Dhuha. Kemunculan sosok monster ini sontak
membuat seluruh peserta bergidig ketakutan, sebagian lagi berteriak histeris.
Suasana yang tadinya santai dan asyik berubah menjadi menakutkan dan tegang.
“Semua peserta harap
tenang.!” Seru kang Rido dengan suara yang lantang. “ini adalah monster plastik
yang menjadi bagian tim dan maskot RSBS” kata Kang Rido, menambahkan. Akhirnya,
setelah mendengar penjelasan dari kang Rido, peserta kembali tenang kendati
diantara mereka masih ada yang merasa ketakutan.
“Monster Plastik ini udah
jinak. Dia baik, gak akan gigit” kata kan Rido yang langsung disambut gelak
tawa semua peserta. Benar saja, meskipun si Monster Plastik ini terlihat
menyeramkan, namun gerak geriknya selalu mengundang tawa peserta. Bahkan, Suasana
gedung mandala pun kembali mencair setelah si Monster plastik menari bersama
dengan kang Rido saat menyanyikan yel-yel diet kantong plastik. Bahkan setelah
acara selesai, banyak diantara mereka yang berselfie ria denga si monster
plastik ini.
Dalam kesempatan kali
ini, kang Rido selaku ketua Komunitas RSBS mengajak seluruh mahasiswa untuk
sama-sama mengurangi sampah plastik. “semoga selepas acara ini, makin banyak
mahasiswa yang sadar untuk melakukan aksi sederhana, diet kantong plastik”. ia
pun sangat berterimakasih kepada UKM KISI yang telah mengundang Komunitas RSBS
untuk hadir dalam acara rutin tahunan mereka. “yang daftar gabung ke Komunitas
RSBS cukup banyak, kami juga sangat berterimaksih kepada teman-teman KISI dan
mahasiwa lain yang mau mengundang dan bergabung bersama komunitas kami”.
Rencananya dalam waktu
dekat ini, komunitas RSBS akan melakukan aksi besar untuk mengembalikan Tasik
sebagai kota Resik.
Wednesday, 30 September 2015
Rumah Yatim Indonesia Kedatangan Monster Plastik
Setelah beberapa rangkaian Aksi yang dilakukan Relawan Nyakar (Nya'ah Ka Runtah/The Trash Lover) Komunitas RSBS seperti RSBS Goes to Society, RSBS Goes to Market dan RSBS Goes to School, kemarin (29/09) Relawan Nyakar Komunitas RSBS kembali memulai aksinya dengan mengunjungi Rumah Yatim Indonesia yang berlokasi di Perum kotabaru Jl. Bandung blok A2 No. 137-142 Cibeureum Tasikmalaya.
Dalam acara yang diikuti oleh seluruh anak binaan di Rumah Yatim Indonesia (RYI), Kang Rido selaku Ketua Komunitas RSBS mengajak anak – anak untuk lebih mencintai lingkungan sekitarnya. dihadapan anak-anak, ia menerangkan pentingnya mencintai alam dengan berbagai ilustrasi, dongeng, nyanyian dan lainya.
Anak-anak binaan Rumah Yatim Indonesia yang mengikuti acara ini sangat menyimak dengan sangat antusias dengan tema yang dibawakan juga gaya penyampaian kang Rido yang jenaka membuat anak-anak tertawa gembiara. Dalam acara ini juga di hebohkan dengan hadirnya monster plastik yang turut memeriahkan acara.
Menurut kang Rido, ia sengaja membawa kostum Monster Plastik sebagai ilustrasi dalam memotivasi agar anak-anak tidak menggunakan kantong plastik secara berlebihan (Diet Kantong Plastik) dan tidak buang sampah sembarangan, “jadi ini Cuma ilustrasi, jika mereka (anak-anak) buang sampah plastik sembarangan, maka sampahnya akan jadi monster plastik dan memakan mereka” pungkasnya.
(Writtern by Udhe Kurnia)
Relawan Nyakar Komunitas RSBS goes to Mayasari Plaza
Pada 8 september lalu, salah satu komunitas yang fokus ke permasalahan lingkungan khususnya sampah, menggelar aksi sosialisasi di Mayasari Plaza. Aksi ini merupakaian salah satu perwujudan program kerja komunitas RSBS yakni RSBS Goes to Market. Dalam aksinya, para relawan komunitas RSBS yang diberi nama Relawan Nyakar "Nya'ah Ka Runtah/The Trash Lover"menyosialisasikan mengenai pentingnya 3R (Reduce, Recycle, Reuse). Menurut mereka, 3R ini harus selalu di terapkan dalam menangani permasalahan sampah.
Dalam aksinya kali ini, Komunitas yang di pimpin oleh Nursalim Ridha (Mr. Rido) fokus untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai bahaya sampah, khususnya plastik. Mereka mengatakan bahwa sampah terbesar yang patut diwaspadai oleh seluruh segmen masyarakat adalah plastik. Konon untuk dapat di uraikan oleh tanah, plastik memerlukan waktu 100 sampai dengan 1000 tahun di dalam tanah. Selain memerlukan waktu yang sangat lama, plastik pun diciptakan dengan bahan baku utama minyak bumi.
Berdasarkan beberapa pertimbangan itu pula lah komunitas RSBS menggelorakan aksi untuk diet kantong plastik khusususnya di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Tujuan utama aksi ini adalah terciptanya masyarakat Tasik yang bersinergi untuk sama-sama mengurangi penggunaan kantong plastik.Menurut Komunitas RSBS, diet kantong plastik merupakan langkah sederhana untuk mengurangi bahaya kantong plastik itu sendiri.
Aksi yang di gelar di pintu Utama Mayasari Plaza ini mendapat dukungan secara penuh dari salah satu manajer Mayasari Plaza, Andi Gumelar. Bahkan masyarakat yang berkunjung ke Plaza ini pun cukup antusias, hal ini terlihat dari banyaknya tanda tangan yang di bubuhkan dalam sebuah kain putih besar sebagai petisi Tasik diet kantong plastik.
(Writtern By Udhe Kurnia)
Monday, 28 September 2015
Aku Bukan Tempat Sampah
“Mengapa ya semua orang tega membuang sampahnya
disini? Aku kan sebenarnya merupakan sumber air bagi mereka. Seandainya saja
mereka mau merawatku.” gerutunya.
Dari kejauhan tampak dua orang remaja yang sedang berjalan. Mereka asyik mengobrol sambil menikmati camilan yang ada di tangan mereka masing-masing. Sungai mengawasi mereka.
“Hmm enak. Sayang, cepat habis,” kata salah satu dari
mereka. Tiba-tiba, dilemparkannya bungkus snack itu ke arah Sungai. Plak!
Sampailah bungkus snack itu ke permukaan air Sungai. Sungai pun semakin
merengut karenanya.
“Coba lihat! Begitu cara mereka memperlakukanku!”
Namun tak banyak yang bisa dilakukannya. Hatinya
semakin sedih, dan juga marah.
“Tak tahukah mereka bahwa aku ada untuk keindahan
mereka juga, membantu mereka, memberi mereka sumber air? Aku seharusnya selalu
bersih. Tapi karena mereka tak pernah peduli padaku, aku menjadi seperti ini,
airku keruh dan kotor, penuh sampah. Banyak kuman penyakit bersarang di airku.
Kalau begini kan aku tak bisa lagi membantu mereka. Siapa yang rugi? Bukankah
mereka sendiri?”
Sungai mulai meneteskan air matanya. Semakin deras dan
semakin deras. Tiba-tiba langit pun ikut menangis bersama Sungai. Berdua mereka
menumpahkan air mata. Semakin banyak dan semakin banyak. Hingga airnya meluap,
tak dapat ditampung lagi oleh Sungai. Air membuncah keluar, dan menuju ke
perkampungan warga dengan cepat.
Warga panik. Mereka segera berusaha menyelamatkan
harta bendanya dari amukan air Sungai. Yang rumahnya berlantai dua, segera
memindahkan barang-barang penting ke lantai atas rumahnya. Sedangkan yang bisa
berlari dan mengungsi, segera pergi dari rumahnya masing-masing.
Kali ini tangis si Sungai benar-benar meluap. Ia sudah
tak tahan dengan tumpukan sampah yang terus menjejalinya.
“Wah, banjirnya agak parah,” keluh beberapa warga yang
melihat dari kejauhan di pengungsian.
“Yah, sebenarnya banjir itu kan bukan kesalahan alam.
Kita tak bisa menyalahkan alam, atau sungai yang tiba-tiba meluap. Kitalah
sebagai manusia yang seharusnya sadar. Saya jadi ingat, dulu sungai itu masih
jernih, masih bisa dijadikan tempat untuk mencuci baju, mencuci piring, bahkan
mandi bersama teman-teman kecil Bapak. Namun sekarang banyak orang yang suka
membuang sampah ke dalamnya. Sungguh sangat disayangkan.” Seorang bapak berkata
sambil merenung.
Warga yang mendengar cerita bapak tadi ikut tercenung.
Bapak itu melanjutkan, “Padahal, sungai itu bisa
menjadi tampungan air jika ia dibiarkan mengalir dengan lancar. Namun sampah
manusialah yang membuatnya tak bisa mengalir lagi. Airnya juga jadi tak
sejernih dulu.”
Si Sungai yang mendengarnya, sedikit terharu. Ternyata
masih ada manusia yang memperhatikannya.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, sepertinya kita harus melakukan
perubahan. Bagaimanapun, ini adalah untuk kepentingan kita juga. Jika banjir
sudah surut mari kita bergotong royong membersihkan sungai. Mulai
mendisiplinkan diri untuk tidak lagi membuang sampah di sungai.
Mereka semua setuju dengan usul Bapak tadi.
Tiga hari kemudian banjir mulai surut. Warga lega bisa
kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka pun bekerja membersihkan rumahnya
dari sisa-sisa kotoran tanah bekas banjir.
Beberapa warga juga mulai bergotong royong
membersihkan sungai. Tak lama kemudian, menyusul warga yang lain bergabung
bersama warga yang lebih dulu turun ke sungai. Mereka bekerja dengan giat,
mengumpulkan sampah yang mengapung di permukaan air dengan perahu-perahu kecil.
Sungai menjadi lebih bersih sekarang, meski belum benar-benar jernih, akibat
sampah yang sudah terlalu banyak hingga mengubah warnanya, namun sungai itu
kini bisa mengalir dengan lancar.
Warga pun bersyukur, dan berjanji tak kan membuang
sampah lagi di sungai.
Si Sungai pun kini senang. Karena warga akhirnya sadar
bahwa dirinya diciptakan memang untuk menjaga keseimbangan alam. Mengalirkan
air yang sebenarnya bisa dimanfaatkan warga, namun bukan untuk membuang sampah.
“Terima kasih semua!” seru Sungai riang.
Sebelumnya
sudah pernah dipublikasikan di blog pribadi: sohibunnisa.blogspot.com
Image diambil dari sini.
Data Penulis
Nama: Ade Delina Putri
Blog: sohibunnisa.blogspot.com
Twitter: @adedelinaputri
Facebook: Ade Delina Putri
Image diambil dari sini.
Data Penulis
Nama: Ade Delina Putri
Blog: sohibunnisa.blogspot.com
Twitter: @adedelinaputri
Facebook: Ade Delina Putri
Saturday, 26 September 2015
Green Outbound Relawan Nyakar
Aksi Relawa Nyakar (Nya'ah Ka Runtah)
Komunitas RSBS bersama SMA&SMP Ponpes Al Idrisyiah
dan Pemuda Pelopor Keselamatan Se-Kab Ciamis
Subscribe to:
Posts (Atom)















